-
Muhammad Abrar
- 28 Peb 2026
usaha, tetapi juga melumpuhkan aktivitas warga. Masyarakat yang membutuhkan BBM untuk bekerja, mengantar anak, atau kebutuhan darurat terpaksa mengorbankan waktu berjam-jam di antrean. Produktivitas merosot, kesabaran diuji, dan amarah perlahan membuncah.
“Yang dapat untung pelangsir, yang menderita kami. BBM subsidi seolah bukan lagi milik rakyat kecil,” keluh seorang warga.
Warga menilai lemahnya pengawasan membuka celah bagi praktik langsir yang semakin terang-terangan. Momentum meningkatnya kebutuhan BBM menjelang Natal dan Tahun Baru diduga dimanfaatkan oleh oknum untuk mengeruk keuntungan, sementara masyarakat umum harus berebut sisa.
Masyarakat mendesak aparat penegak hukum, Pertamina, dan instansi terkait segera turun tangan. Pengawasan distribusi BBM subsidi dinilai mendesak untuk mencegah kelangkaan dan memastikan bahan bakar benar-benar sampai kepada mereka yang berhak.
Jika kondisi ini dibiarkan, warga khawatir krisis antrean akan berubah menjadi konflik terbuka di lapangan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak SPBU Sungai Jering maupun otoritas terkait terkait penanganan antrean dan dugaan praktik langsir BBM subsidi